Rush Reviewer

We bring you dissonance.

TALKIN’ ABOUT MY GENERATION

Saya tidak begitu tahu persis apakah semua ikut setuju apabila saya menyatakan bahwa Rock n’ Roll adalah sebuah nama universal yang di usung oleh generasi ke generasi sebagai bentuk perlawanan secara substansi atau esensi bagi berjalannya pemikiran di suatu periode zaman. Tapi, yah, saya selalu berpikir seperti itulah Rock n’ Roll. Bentuk lain dari kritik maupun respon terhadap struktur yang menuntut suatu kalangan untuk ‘merubah’ keadaan tersebut dengan perlawanan dalam bentuk seni, musik, dan kreasi, Seperti yang telah di tunjukan dari generasi-generasi, pada 60-an 70-an 80-an dan bahkan 90-an. Tapi bagaimana dengan generasi kita?

 

Sebetulnya membingungkan juga tentang apa yang terjadi sepuluh tahun terakhir ini. Maksud saya, sangat berbeda dengan apa yang saya baca mengenai generasi dekade-dekade sebelumnya. Anak-anak muda lebih senang berada di depan televisi atau berjalan-jalan ke tempat nongkrong, mencoba mengkritik tapi tidak bergerak, menyatakan fatwa independen tapi malah menciptakan eksklusifitas, saya rasa saat ini sangat susah untuk menjelaskan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Mungkin otak anak muda sekarang sudah begitu plural, yah kira-kira seperti masyarakat nusantara lah, sampai-sampai mereka lupa poin penting dari sebuah revolusi.

 

Setelah melalui perbincangan dengan salah satu Rush Reviewer lainnya di sebuah pub paling tua di Jakarta, tampaknya individualitas adalah pemikiran generasi muda yang sedang ‘ngetren-ngetrennya’. Berfikir bebas dan kreasi liar hasil individu memang luar biasa. Melirik bagaimana sekarang setiap orang berani berekspresi, saya rasa itu sudah sangat keren. Tapi tetap saja, kenapa generasi kita tidak menciptakan ‘apa-apa’?

 

Kekosongan ikon massal, saling hina antar aliran musik, dan ‘Smells Like Teen Spirit’, juga Kurt Cobain dan band 90-an, masih ada sebagai ‘anthem’ zaman sekarang. C’mon, itu sudah lewat hampir dua dekade yang lalu. Harusnya sekarang giliran kita. Harus ada yang maju kedepan.

 

Sekarang memang zamannya ‘indie’, saking ‘indie’-nya sampai menutup diri. Tidak ada artinya juga menjadi ‘indie’ kalau tidak merubah ‘mainstream’, toh cuma untuk kalangan tertentu saja. Kalau sudah begini saya rasa lebih baik kata ‘indie’ dihapus sajalah, biar kita bisa bersatu, menunjukan suatu pergerakan bersejarah, dari generasi kita untuk generasi kita.

 

It’s revolution baby

Peace, Rizky

MENGGELAPKAN MALAM BERSAMA CAT’S EYES

Artist  : Cat’s Eyes

Album    : Cat’s Eyes

Release : 2011

Puas bermain-main dengan irama surfing serta sound kotor dan berisik di debut Strange House, lalu mulai merayap menuju sound yang lebih dewasa pada Primary Colours, Faris Badwan (The Horrors) ternyata masih melebarkan sayap untuk menginvasi telinga kita dengan berbagai koleksi partitur gelapnya.


Setelah Lumina, kolaborasi singkat dengan Cherish Kaya (ex-personel Ipso Facto) maka perkenalkan: Cat’s Eyes. Proyek duo nan sophisticated dengan Rachel Zeffira, soprano/multi-instrumentalis asal Kanada. Tanpa make-up gothic dan pucat ataupun teriakan meraung-raung penuh derita, Badwan menyajikan kita kumpulan notasi yang beragam namun tetap pada garis tegas yang jelas, minor. Bayangkan simfoni klasik, dreampop dan kemuraman yang elegan dicampur satu lalu ditumbuk halus sehingga menghasilkan avant-garde ringan bernama Cat’s Eyes ini.

Rachel Zeffira sendiri mendapat porsi suara yang cukup banyak. Menarik juga mendengarkan suaranya yang seperti bunglon, berubah-ubah dan tidak sama di setiap lagunya. Tarikan vokalnya sekilas mengingatkan saya akan Inara George, bahkan Karolina Komstedt di track Not a Friend. Menarik.

Well, apapun yang ditawarkan Faris Badwan di kemudian hari, mari persiapkan telinga untuk kegelapan yang (mungkin) akan semakin gelap.

Fight for your right! Wahyu



 

1. Cat’s Eyes

2. The Best Person I Know

3. I’m Not Stupid

4. Face In The Crowd

5. Not A Friend

6. Bandit

7. Sooner Or Later

8. The Lull

9. Over You

10. I Knew It Was Over

Mediafire